Home
Sulit Hamil untuk Kedua Kali PDF
Written by oriana   

Bahkan jika Anda sudah sukses melahirkan si buah hati, bisa saja Anda memiliki masalah kesuburan setelah itu. Jika Anda satu dari sekian banyak orang yang memiliki masalah secondary infertility (sulit hamil untuk kedua kali), beberapa fakta berikut bisa membantu Anda memahami kondisi yang sedang Anda alami.


Fakta
Berdasarkan National Survey of Family Growth di AS, lebih dari 1 juta pasangan berjuang untuk keluar dari secondary infertility. “Kasus seperti ini memang sering terjadi. Penyebabnya bervariasi. Yang paling sering adalah infeksi tiba-tiba yang dialami ibu dan stres yang dialami salah satu atau pasangan,” kata Prof. Ali. Selain itu, terdapat beberapa penjelasan logis, seperti istri atau suami yang tergolong subur menikah dengan orang lain yang tergolong infertil, atau pasangan tersebut sebenarnya sudah memiliki masalah kesuburan sejak kehamilan pertama. Misalnya, istri terkena endometriosis, masa ovulasi yang tidak menentu, atau terkena penyakit pada tuba falopii. Bisa juga suami mengalami penurunan konsentrasi atau kemampuan pergerakan sperma.

Penyebab lain secondary infertility adalah faktor usia. Jangka waktu lima tahun bisa sangat berpengaruh terhadap siklus kesuburan wanita dan kualitas sperma pria. Trauma pasca-melahirkan juga bisa menjadi penyebab kesulitan memiliki anak kedua atau ketiga. Pasangan yang sudah memiliki anak kerap mengabaikan masalah kesuburan, padahal kasus secondary fertility banyak terjadi. Karena itu, penting bagi pasangan untuk memeriksakan kesuburan begitu menemui kesulitan hamil untuk kedua kali.

Penanganan
Penanganan sangat tergantung pada riwayat kesuburan dan kesehatan Anda dan pasangan. Dokter kandungan bisa saja langsung menyarankan Anda untuk menemui spesialis kesuburan atau melakukan serangkaian tes sebelum memutuskan jenis pengobatan. “Jika ditemukan infeksi, akan dilakukan pengobatan anti-infeksi,” kata Prof. Ali. Tahap pertama adalah memeriksa penyebab secondary infertility Anda. “Penanganan yang dilakukan berdasarkan penyebab atau kelainan yang dijumpai. Misalnya, jika dijumpai miom ataupun kista para rahim, sebaiknya dilakukan operasi pengangkatan kista ataupun miom,” kata Dr. Andrijono.

Dokter perlu memastikan produksi sel telur Anda, jumlah sperma suami, dan apakah sperma cukup kuat dan sehat untuk berenang mendekati sel telur. Secara umum, Anda akan menjalani dua jenis pemeriksaan, yaitu pemeriksaan darah dan sistem reproduksi.
Tes darah, berguna untuk mengukur level progesteron (untuk memastikan siklus ovulasi), gonadotropin (memeriksa apakah Anda mengalami menopause dini), dan prolactin (hormon yang keluar saat Anda menyusui. Jika jumlah hormon ini meningkat, ada kemungkinan Anda menderita kelainan ovulasi atau tumor).
Pemeriksaan sistem reproduksi. Tahap selanjutnya adalah memeriksa jika ada penyumbatan, kerusakan, atau kelainan pada sistem reproduksi Anda. Sebelum Anda menjalani pemeriksaan sel telur, akan ada screening bakteri chlamydia. “Infeksi genital menjadi penyebab paling sering gangguan kesuburan. Dan kasus infeksi karena bakteri chlamydia trachomatis termasuk yang paling banyak ditemukan,” kata Prof. Ali.
Laparoskopi. Jika Anda memiliki riwayat peradangan panggul (pelvic inflammatory disease/PID), pernah mengalami hamil di luar kandungan atau endometrosis, dokter mungkin akan menawarkan laparoskopi yaitu operasi pemeriksaan yang menggunakan peralatan teleskopik untuk melihat apakah tuba falopii Anda mengalami kerusakan.
Pemeriksaan untuk pria. Suami Anda juga perlu menjalani beberapa tes, yaitu tes cairan sperma dan pemeriksaan jika ada pembengkakan atau penyumbatan sistem reproduksi.
Berdasarkan National Survey of Family Growth di AS, lebih dari 1 juta pasangan berjuang untuk keluar dari secondary infertility. “Kasus seperti ini memang sering terjadi. Penyebabnya bervariasi. Yang paling sering adalah infeksi tiba-tiba yang dialami ibu dan stres yang dialami salah satu atau pasangan,” kata Prof. Ali. Selain itu, terdapat beberapa penjelasan logis, seperti istri atau suami yang tergolong subur menikah dengan orang lain yang tergolong infertil, atau pasangan tersebut sebenarnya sudah memiliki masalah kesuburan sejak kehamilan pertama. Misalnya, istri terkena endometriosis, masa ovulasi yang tidak menentu, atau terkena penyakit pada tuba falopii. Bisa juga suami mengalami penurunan konsentrasi atau kemampuan pergerakan sperma.

Penyebab lain secondary infertility adalah faktor usia. Jangka waktu lima tahun bisa sangat berpengaruh terhadap siklus kesuburan wanita dan kualitas sperma pria. Trauma pasca-melahirkan juga bisa menjadi penyebab kesulitan memiliki anak kedua atau ketiga. Pasangan yang sudah memiliki anak kerap mengabaikan masalah kesuburan, padahal kasus secondary fertility banyak terjadi. Karena itu, penting bagi pasangan untuk memeriksakan kesuburan begitu menemui kesulitan hamil untuk kedua kali.

Penanganan
Penanganan sangat tergantung pada riwayat kesuburan dan kesehatan Anda dan pasangan. Dokter kandungan bisa saja langsung menyarankan Anda untuk menemui spesialis kesuburan atau melakukan serangkaian tes sebelum memutuskan jenis pengobatan. “Jika ditemukan infeksi, akan dilakukan pengobatan anti-infeksi,” kata Prof. Ali. Tahap pertama adalah memeriksa penyebab secondary infertility Anda. “Penanganan yang dilakukan berdasarkan penyebab atau kelainan yang dijumpai. Misalnya, jika dijumpai miom ataupun kista para rahim, sebaiknya dilakukan operasi pengangkatan kista ataupun miom,” kata Dr. Andrijono.

Dokter perlu memastikan produksi sel telur Anda, jumlah sperma suami, dan apakah sperma cukup kuat dan sehat untuk berenang mendekati sel telur. Secara umum, Anda akan menjalani dua jenis pemeriksaan, yaitu pemeriksaan darah dan sistem reproduksi.
Tes darah, berguna untuk mengukur level progesteron (untuk memastikan siklus ovulasi), gonadotropin (memeriksa apakah Anda mengalami menopause dini), dan prolactin (hormon yang keluar saat Anda menyusui. Jika jumlah hormon ini meningkat, ada kemungkinan Anda menderita kelainan ovulasi atau tumor).
Pemeriksaan sistem reproduksi. Tahap selanjutnya adalah memeriksa jika ada penyumbatan, kerusakan, atau kelainan pada sistem reproduksi Anda. Sebelum Anda menjalani pemeriksaan sel telur, akan ada screening bakteri chlamydia. “Infeksi genital menjadi penyebab paling sering gangguan kesuburan. Dan kasus infeksi karena bakteri chlamydia trachomatis termasuk yang paling banyak ditemukan,” kata Prof. Ali.
Laparoskopi. Jika Anda memiliki riwayat peradangan panggul (pelvic inflammatory disease/PID), pernah mengalami hamil di luar kandungan atau endometrosis, dokter mungkin akan menawarkan laparoskopi yaitu operasi pemeriksaan yang menggunakan peralatan teleskopik untuk melihat apakah tuba falopii Anda mengalami kerusakan.
Pemeriksaan untuk pria. Suami Anda juga perlu menjalani beberapa tes, yaitu tes cairan sperma dan pemeriksaan jika ada pembengkakan atau penyumbatan sistem reproduksi.
Last Updated ( Monday, 16 February 2009 )
 
< Prev

Galeri Foto Warga
Rumah Dijual di Lebak Bulus pelantikan 17 Agustus 2009 17 Agustus 2009 17 Agustus 2009 17 Agustus 2009
© 2012 orianapermata.com
Powered by [Joomla] | Iconed by [dryicons]